Rabu, 09 Desember 2015

makalah media dan film dalam pembelajaran

PENGEMBANGAN MEDIA DAN SUMBER BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(Media Video dan Film)


Description: untitled-1_131.png



Disusun oleh:
Diyah Ayu Wulandari  (14410007)
Nur Khasanah               (14410101)
Dzulfikar Hardiki         (14410138)




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015/2016


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik dan hidayahnya-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan.  Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita dari jaman jahiliah ke zaman yang terang benderang ini.
Semoga makalah berjudul “Pengembangan Media Dan Sumber Belajar Pendidikan Agama Islam (Media Video dan Film) ” ini bisa memperjelas tentang langkah langkah yang harus dilakukan untuk menjadikan video dan film sebagai media pembelajaran yang efektif
Penulisan dan penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan dan batuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak Dr. Sukiman, M.Pd.  selaku dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar Pendidikan Agama Islam.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita bersama dan tidak lupa penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak untuk kesempurnaan makalah ini.

Yogyakarta,
Tim penyusun


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kemampuan setiap individu  untuk memahami dan mengerti memang berbeda-beda, jadi metode dan media yang digunakan  juga berbeda. Untuk mengatasi perbedaan tersebut, perlu adanya media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang harus mendapat perhatian guru  atau fasilitator dalam setiap kegiatan  pembelajaran. Karena semakin banyak media yang digunakan, akan semakin banyak juga siswa memperoleh pemahaman. Media yang digunakan yaitu media yang sesuai dengan materi. Oleh karena itu guru atau fasilitator perlu mempelajari bagaimana memilih media pembelajaran yang tepat agar dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Seperti yang kita tahu semakin banyak indra yang kita gunakan dalam belajar semakin berkesan pula suatu pelajaran. Dalam makalah ini kami akan membahas media yang melibatkan beberapa indra sekaligus yaitu video dan film. Video atau film adalah salah satu dari beberapa media audio visual. Tidak hanya melibatkan audio saja atau visual saja melainkan melibatkan keduanya.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Video dan Film?
2.      Bagaimana karakteristik Video dan Film?
3.      Bagaimana tahap penyusunan Video dan Film sebagai media pembelajaran?
4.      Bagaiamana langkah penggunaan sebagai bahan ajar?
5.      Apa saja kelebihan dan kekurangan Video dan Film?
6.      Bagaimana penggunaan video dan film dalam PAI?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian video dan film
2.      Untuk mengetahui karakteristik video dan film
3.      Untuk mengetahui tahap penyusunan video dan fil sebagai media pembelajaran
4.      Untuk mengetahui langkah penggunaan sebagai bahan ajar
5.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan Video dan Film
6.      Mengetahui contoh penerapan video dan film dalam PAI


D.      
BAB II
PEMBAHASAN
MEDIA FILM DAN VIDEO
A.    Pengertian Media Film dan Video
Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie. Film secara kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata kinematik atau gerak. Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan selulosa, biasa dikenal di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harfiah film (sinema) adalah Cinematographie yang berasal dari Cinema + tho = phytos (cahaya) + graphie = grap (tulisan = gambar = citra), jadi pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya.[1]
Devinisi film menurut UU 8/1992 adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasar asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa proses suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau dipertayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan atau lainnya.[2]
Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah pengertian film dari istilah  yang mengacu pada bahan ke istilah yang mengacu pada bentuk karya seni audio-visual. Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan audio. (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.[3]
Seperti halnya media film, media video juga mampu menampilkan gambar bergerak (gambar hidup) dengan disertai suara. Secara empiris kata video berasal dari sebuah singkkatan yang dalam bahasa inggris yaitu visual dan audio. Kata Vi adalah singkatan dari Visual yang berarti gambar, kemudian pada kata Deo adalah singkatan dari Audio yang berarti suara (http://arisandi.com). Ada juga pendapat yang mengatakan Video berasal dari bahasa latin, video-vidi-visium yang artinya melihat (mempunyai daya penglihatan); dapat melihat (K. Prent dkk., Kamus Latin-Indonesia, 1969: 926). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990: 1003) mengartikan video dengan: 1) bagian yang memancarkan gambar dari pesawat televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk ditayangkan pada pesawat televisi.senada dengan itu, M Echols dan Shadilly (1992: 629), dalam Kamus Inggris-Indonesia memaknai video dengan penyiaran atau penerimaan gambar pada TV.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan yang dimaksud dengan video adalah seperangkat komponen atau media yang mampu menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu bersamaan. Pada dasarnya, hakikat video adalah mengubah suatu ide atau gagasan menjadi sebuah tayangan gambar dan suara yang proses perekamannya dan penayangannya melibatkan teknologi tertentu. Media video ini memiliki persamaan dan perbedaan  dengan media film. Persamaannya antara lain keduanya termasuk kelompok media pandang dengan (audio visual aids), karena memiliki unsur yang dapat dilihat sekaligus didengarkan, keduanya dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan ketrampilan, menyingkat, memperpanjang waktu dan memengaruhi sikap.[4] Adapun diantara perbedaannya dalam konteks pembahasan ini adalah media film memiliki alur cerita baik yang bersifat non fiksi atau fiksi, kalau video tidak memiliki alur cerita.[5]

B.     Karakteristik Media Film dan Video[6]
Secara umum, karakteristik media video dan film memiliki persamaan, yaitu:
a.       Menampilkan gambar dengan gerak, serta suara secara bersamaan
b.      Mampu menampilkan benda yang sangat tidak mungkin ke dalam kelas karena terlalu besar (misalnya: gunung), terlalu kecil (misalnya: kuman), terlalu abstrak (misalnya: konsep bencana), terlalu rumit (misal: proses produksi), terlalu jauh (misal: kehidupan di kutub) dan lain sebagainya
c.       Mampu mempersingkat proses, misalnya proses penyemaian padi hingga panen
d.      Memungkikan adanya rekayasa (misal: animasi)

C.    Tahap-tahap Penyusunan Media Film dan Video[7]
Ada tiga tahap penting yang perlu dilakukan dalam kegiatan proses produksi program video, yaitu:
a.         Persiapan (pra produksi)
Tahap persiapan (pra-produksi) merupakan kegiatan-kegiatan awal sebelum pengambilan gambar dimulai. Kegiatan ini penting karena menghasilkan naskah yang akan dipedomani oleh semua pihak. Kegiatan ini meliputi: penjagaan/ hunting lokasi, penyusunan rencana anggaran biaya, casting, penyusunan jadwal shooting, penyusunan kerabat kerja, latihan pemain, dan rapat produksi.
b.        Pelaksanaan produksi (shooting)
Pelaksanaan produksi (shooting) merupakan tahapan dimana proses pengambilan gambar, perekaman gambar, perekaman suara, dan pemotretan obyek yang dibutuhkan dilakukan. Pengambilan gambar dapat dilakukan di dua tempat yaitu di studio dan di luar studio.
c.       Penyelesaian akhir (purna produksi)
Penyelesaian akhir (purna produksi) merupakan tahap purna produksi. Tahap ini meliputi kegiatan penyuntingan gambar (editing), pemaduan gambar dengan suara dan musik (mixing), dan kegiatan pengisian suara (dubling). Selain itu juga kegiatan yang perlu dilakukan pada tahap purna produksi adalah preview prototype/master yang telah dibuat. Preview dilakukan oleh tim produksi, ahli media, ahli mater, produser dan evaluator program.

Berikut ada beberapa tips untuk memproduksi video sendiri:[8]
1.      Buat scenario atau skrip sederhana untuk menggambarkan alur cerita dan gambar yang nantinya tampil dalam video pembelajaran
2.      Sediakan alat-alat yang diperlukan dalam pembuatan video, misalnya kamera, laptop untuk mengolah video, kabel FireWire atau USB sebagai media transfer dari kamera ke laptop.
3.      Lakukan pengambilan gambar menggunakan kamera, gunakan teknik-teknik sederhana dalam shoting.
4.      Berikutnya set kamera pada Mode Play, kemudian hubungkan kamera ke computer menggunakan kabel FireWire ataupun USB. Pastikan computer telah mendeteksi kamera yang kita sambungkan.
5.      Gunakan aplikasi video editing seperti Windows Movie Maker untuk melakukan pengolahan video.

D.    Langkah Penggunaan Sebagai Bahan Ajar
Adapun langkah-langkah penggunaan film sebagai bahan pengajaaran ada sebagai  berikut[9]:
1.      Langkah persiapan Guru, guru mempersiapkan pelajaran yang hendak disampaikan terlebih dahulu, kemudian memilih film yang kiranya berkaitan atau mendukung materi yang hendak di sampaikan. Dalam pemilihan film ini guru perlu mengetahui durasi film yang akan ditayangkan, serta diskripsi film lainnya. Hal ini bertujuan agar film yang akan ditampilkan sesuai dengan jam pelajaran.
2.      Mempersiapkan kelas, sebelum guru menayangkan film sebaiknya audiens atau siswa diberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyyan yang kiranya akan muncul ketika mereka menonton film tersebut. Untuk itu perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a.       Menjelaskan maksud pembuatan film
b.      Menjelaskan secara ringkas isi film
c.       Menjelaskan secara ringkas isi film, menjelaskan bagian-bagian film yang harus mendapat perhatian khusus
d.      Harus dijelaskan mengapa terdapat ketidakcocokan pendapat dengan bagian isi film bila ditemui ketidak sesuaian
3.      Langkah penyajian, setelah guru menyiapkan audiens, guru perlu menyiapkan peralatan yang kiranya diperlukan selama penayangan film. Misalnya proyektor atau LCD, pencahayaan ruang dll.
4.      Aktivitas lanjutan, dalam aktivitas ini dapat dilakukan Tanya jawab, untuk mengetahui sejauh mana pemahaman audiens terhadap materi yang disampaikan.

Dalam menilai baik tidaknya sebuah film Oemar Hamalik mengemukakan bahwa film yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut:[10]
1.      Dapat menarik minat anak
2.      Benar dan autentik
3.      Up to date dalam seting , pakaian dan lingkungan
4.      Sesuai dengan tingkat kematangan audien
5.      Perbendaharaan bahasa yang digunakan benar
6.      Teknis yang dipergunakan cukup memenuhi persyaratan dan cukup memuaskan.
E.     Kelebihan dan Kekurangan
 Berikut ini adalah Kelebihan media video dan film ( Sukiman, 2012: 188):
1.      Video dan film dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari peserta didik ketika mereka membaca, berdiskusi, berpraktik dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar bahkan hal yang tidak dapat kita lihat misalnya kerja jantung ketika berdenyut.
2.      Film dan video dapat di putar berulang-ulang bila diperlukan. Misalnya langkah-langkah praktik wudhu, sholat dll.
3.      Video dan film dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan menanamkan nilai-nilai afektif lain. Misalnya film-film religi.
4.      Film dan video dapat mengandung nilai-nilai positif yang mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok peserta didik. Bahkan video dan film seperti slogan yang sering didengar dapat membawa dunia ke dalam kelas.
5.      Film dan video dapat menyajikan kejadian-kejadian yang berbahaya seperti lahar gunung berapi atau perilaku binatang buas.
6.      Film dan video dapat di tunjukkan pada berbagai macam kelompok, baik kelompok besar maupun kecil, baik heterogen maupun homogeny.
7.      Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar frame demi frame, yang jika dalam keadaan normal akan memakan waktu yang cukup lama dapat disingkat menjadi hanya beberapa menit. Misalnya kejadian metamorphosis ulat menjadi kupu-kupu.

Adapun kekurangannya adalah:
1.      Pembuatan video dan film yang berkualitas , memerlukan peralatan yang relative mahal.
2.      Pembuatan film dan video membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
3.      Siswa harus memperhatikan dengan serius dan jangan sampai ketinggalan, jika ketinggalan maka informasi yang di dapat akan kurang jelas
4.      Film dan video yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang diinginkan kecuali film dan video itu dirancang dan diproduksi khusus untuk kebutuhan sendiri ( Sukiman, 2012: 190)
5.      Keterangan hanya dapat disampaikan setelah pemutaran selesai, karena Film bersuara tidak dapat diselingi keterangan-keterangan yang diucapkan sewaktu film diputar. Penghentian akan menganggu konsentrasi audien

F.     Contoh Penggunaan Video dan Film dalam Pembelajaran PAI
Pelajaran Agama terbagi menjadi beberapa mata pelajaran terutama di Madrasah Tsanawiyah atau Madrasah Aliah yaitu Fiqih, Akidah Akhlak, Quran Hadis, Sejarah Kebudayaan Islam. Dalam pelajaran fiqih misalnya dalam BAB haji dapat ditayangkan film atau video mengenai tawaf, sai, lempar jumroh dll. Dalam pelajaran Akidah Akhlak dapat ditampilkan video mengenai contoh akhlak-akhlak tercela seperti video tentang perjudian, mencuri. Contoh penerapan video dan film dalam quran hadis bisa berupa pembacaan ayat-ayat suci versi qori terkenal. Sedangkan dalam SKI dapat ditampilkan video tentang kronologi tentang perang-perang dll.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan audio. (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya. Video adalah seperangkat komponen atau media yang mampu menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu bersamaan. Kedua media tersebut adalah media berbasis audio visual, yaitu media yang tidak hanya bisa dilihat atau didengar melainkan media yang dapat dilihat sekaligus didengar. Media ini dianggap lebih efektif karena dapat melibatkan indra ytang lebih banyak dari pada media-media yang hanya menggunakan satu indra saja. Seperti media-media yang lain, media ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan seperti yang telah dipaparkan sebelumnya.




B.      
DAFTAR PUSTAKA
Sukiman. Pengembangan Media Pembelajaran. . 2012. Yogyakarta: Pedagogia
Ismaniati, Christiani. Pengembangan dan Pemanfaatan Media Video Intruksional untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dalam Majalah Ilmiah Pembelajaran Edisi Khusus 2012.
Usman, Basyiruddin. Media Pembelajaran. 2002.Jakarta: ciputat pres.
Kustandi, Cecep. Sutjipto, Bambang. Media Pembelajaran: Manual dan Digital. 2013. Bogor: Ghalia Indonesia.
Setijadi. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. 1994. Jakarta: Raja Grafindo Persada.





[1]Sukiman,  Pengembangan Media Pembelajaran, (yogyakarta: pedagogia, 2012) hal. 184
[2] ibid hal. 185
[3] ibid hal. 186
[4] Cecep Kustandi, Bambang Sutjipto, Media Pembelajaran: Manual dan Digital, 2013 (Bogor: Ghalia Indonesia). Hal 64
[5] Op. Cit.  hal. 187-188
[6]Christiani Ismaniati, pengembangan dan pemanfaatan media video intruksional untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam Majalah Ilmiah Pembelajaran Edisi Khusus 2012, hal. 119
[7]Ibid hal. 122
[8] Sukiman, 2012, Pengembangan Media pembelajaran, (Yogyakarta: pedagogia), hal 190.
[9] Basyiruddin Usman, 2002, Media Pembelajaran, (Jakarta: ciputat pres) hal. 96
[10] ibid hal 98