PENGEMBANGAN
MEDIA DAN SUMBER BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(Media
Video dan Film)

Disusun
oleh:
Diyah Ayu Wulandari (14410007)
Nur Khasanah (14410101)
Dzulfikar Hardiki (14410138)
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN
SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015/2016
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat, taufik dan
hidayahnya-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita dari jaman jahiliah ke zaman
yang terang benderang ini.
Semoga
makalah berjudul “Pengembangan Media Dan
Sumber Belajar Pendidikan Agama Islam (Media Video dan Film) ” ini bisa
memperjelas tentang langkah langkah yang harus dilakukan untuk menjadikan video
dan film sebagai media pembelajaran yang efektif
Penulisan
dan penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan dan batuan dari berbagai
pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terimakasih kepada bapak Dr.
Sukiman, M.Pd. selaku dosen pengampu
mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar Pendidikan Agama Islam.
Akhir
kata semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk kita bersama dan tidak lupa
penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini belum sempurna. Oleh karena itu
penulis mengharap kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak untuk
kesempurnaan makalah ini.
Yogyakarta,
Tim penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kemampuan setiap
individu untuk memahami dan mengerti
memang berbeda-beda, jadi metode dan media yang digunakan juga berbeda. Untuk mengatasi perbedaan
tersebut, perlu adanya media pembelajaran. Media pembelajaran
merupakan salah satu komponen pembelajaran yang mempunyai peranan penting dalam
Kegiatan Belajar Mengajar. Pemanfaatan media seharusnya merupakan bagian yang
harus mendapat perhatian guru atau fasilitator dalam
setiap kegiatan pembelajaran. Karena semakin banyak media yang digunakan, akan
semakin banyak juga siswa memperoleh pemahaman.
Media yang digunakan yaitu
media yang sesuai dengan materi. Oleh karena itu guru atau fasilitator perlu mempelajari
bagaimana memilih
media pembelajaran yang tepat agar
dapat mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran dalam proses belajar
mengajar. Seperti yang
kita tahu semakin banyak indra yang kita gunakan dalam belajar semakin berkesan
pula suatu pelajaran. Dalam makalah ini kami akan membahas media yang
melibatkan beberapa indra sekaligus yaitu video dan film. Video atau film
adalah salah satu dari beberapa media audio visual. Tidak hanya melibatkan
audio saja atau visual saja melainkan melibatkan keduanya.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan Video dan Film?
2.
Bagaimana karakteristik Video dan Film?
3.
Bagaimana tahap penyusunan Video dan Film sebagai
media pembelajaran?
4.
Bagaiamana langkah penggunaan sebagai bahan ajar?
5.
Apa saja kelebihan dan kekurangan Video dan Film?
6.
Bagaimana penggunaan video dan film dalam PAI?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui
pengertian video dan film
2. Untuk mengetahui
karakteristik video dan film
3. Untuk mengetahui
tahap penyusunan video dan fil sebagai media pembelajaran
4. Untuk mengetahui
langkah penggunaan sebagai bahan ajar
5. Untuk mengetahui
kelebihan dan kekurangan Video dan Film
6. Mengetahui
contoh penerapan video dan film dalam PAI
D.
PEMBAHASAN
MEDIA FILM DAN
VIDEO
A.
Pengertian
Media Film dan Video
Film adalah gambar hidup, juga sering disebut movie. Film secara
kolektif, sering disebut sinema. Sinema itu sendiri bersumber dari kata
kinematik atau gerak. Film juga sebenarnya merupakan lapisan-lapisan selulosa,
biasa dikenal di dunia para sineas sebagai seluloid. Pengertian secara harfiah
film (sinema) adalah Cinematographie yang berasal dari Cinema + tho =
phytos (cahaya) + graphie = grap (tulisan = gambar = citra), jadi
pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya.[1]
Devinisi film menurut UU 8/1992 adalah karya cipta seni dan budaya
yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasar asas
sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau
bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran
melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau
tanpa proses suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau dipertayangkan dengan
sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan atau lainnya.[2]
Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah
pengertian film dari istilah yang
mengacu pada bahan ke istilah yang mengacu pada bentuk karya seni audio-visual.
Singkatnya film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang
menggunakan audio. (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.[3]
Seperti halnya media film, media video juga mampu menampilkan
gambar bergerak (gambar hidup) dengan disertai suara. Secara empiris kata video
berasal dari sebuah singkkatan yang dalam bahasa inggris yaitu visual dan
audio. Kata Vi adalah singkatan dari Visual yang berarti gambar,
kemudian pada kata Deo adalah singkatan dari Audio yang berarti
suara (http://arisandi.com). Ada juga
pendapat yang mengatakan Video berasal dari bahasa latin, video-vidi-visium
yang artinya melihat (mempunyai daya penglihatan); dapat melihat (K. Prent
dkk., Kamus Latin-Indonesia, 1969: 926). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1990:
1003) mengartikan video dengan: 1) bagian yang memancarkan gambar dari pesawat
televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk ditayangkan pada pesawat televisi.senada
dengan itu, M Echols dan Shadilly (1992: 629), dalam Kamus Inggris-Indonesia
memaknai video dengan penyiaran atau penerimaan gambar pada TV.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, dapat disimpulkan yang
dimaksud dengan video adalah seperangkat komponen atau media yang mampu
menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu bersamaan. Pada dasarnya,
hakikat video adalah mengubah suatu
ide atau gagasan menjadi sebuah tayangan gambar dan suara yang proses
perekamannya dan penayangannya melibatkan teknologi tertentu. Media video ini
memiliki persamaan dan perbedaan dengan
media film. Persamaannya antara lain keduanya termasuk kelompok media pandang
dengan (audio visual aids), karena memiliki unsur yang dapat dilihat sekaligus
didengarkan, keduanya dapat menyajikan
informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan
ketrampilan, menyingkat, memperpanjang waktu dan memengaruhi sikap.[4]
Adapun diantara perbedaannya dalam konteks pembahasan ini adalah media film
memiliki alur cerita baik yang bersifat non fiksi atau fiksi, kalau video tidak
memiliki alur cerita.[5]
Secara umum,
karakteristik media video dan film memiliki persamaan, yaitu:
a.
Menampilkan gambar dengan gerak,
serta suara secara bersamaan
b.
Mampu menampilkan benda yang sangat
tidak mungkin ke dalam kelas karena terlalu besar (misalnya: gunung), terlalu
kecil (misalnya: kuman), terlalu abstrak (misalnya: konsep bencana), terlalu
rumit (misal: proses produksi), terlalu jauh (misal: kehidupan di kutub) dan
lain sebagainya
c.
Mampu mempersingkat proses,
misalnya proses penyemaian padi hingga panen
d.
Memungkikan adanya rekayasa (misal:
animasi)
Ada tiga tahap
penting yang perlu dilakukan dalam kegiatan proses
produksi program video,
yaitu:
a.
Persiapan (pra produksi)
Tahap
persiapan (pra-produksi) merupakan kegiatan-kegiatan awal sebelum pengambilan
gambar dimulai. Kegiatan ini penting karena menghasilkan naskah yang akan
dipedomani oleh semua pihak. Kegiatan ini meliputi: penjagaan/ hunting lokasi,
penyusunan rencana anggaran biaya, casting, penyusunan jadwal shooting,
penyusunan kerabat kerja, latihan pemain, dan rapat produksi.
b.
Pelaksanaan produksi (shooting)
Pelaksanaan
produksi (shooting) merupakan tahapan dimana proses pengambilan gambar,
perekaman gambar, perekaman suara, dan pemotretan obyek yang dibutuhkan
dilakukan. Pengambilan gambar dapat dilakukan di dua tempat yaitu di studio dan
di luar studio.
c.
Penyelesaian akhir (purna
produksi)
Penyelesaian
akhir (purna produksi) merupakan tahap purna produksi. Tahap ini
meliputi kegiatan penyuntingan gambar (editing), pemaduan gambar dengan
suara dan musik (mixing), dan kegiatan pengisian suara (dubling).
Selain itu juga kegiatan yang perlu dilakukan pada tahap purna produksi adalah
preview prototype/master yang telah dibuat. Preview dilakukan oleh tim
produksi, ahli media, ahli mater, produser dan evaluator program.
1.
Buat scenario atau skrip sederhana
untuk menggambarkan alur cerita dan gambar yang nantinya tampil dalam video
pembelajaran
2.
Sediakan alat-alat yang diperlukan
dalam pembuatan video, misalnya kamera, laptop untuk mengolah video, kabel
FireWire atau USB sebagai media transfer dari kamera ke laptop.
3.
Lakukan pengambilan gambar
menggunakan kamera, gunakan teknik-teknik sederhana dalam shoting.
4.
Berikutnya set kamera pada Mode
Play, kemudian hubungkan kamera ke computer menggunakan kabel FireWire ataupun
USB. Pastikan computer telah mendeteksi kamera yang kita sambungkan.
5.
Gunakan aplikasi video editing
seperti Windows Movie Maker untuk melakukan pengolahan video.
D.
Langkah Penggunaan Sebagai
Bahan Ajar
Adapun langkah-langkah penggunaan film sebagai
bahan pengajaaran ada sebagai berikut[9]:
1.
Langkah persiapan Guru, guru
mempersiapkan pelajaran yang hendak disampaikan terlebih dahulu, kemudian
memilih film yang kiranya berkaitan atau mendukung materi yang hendak di
sampaikan. Dalam pemilihan film ini guru perlu mengetahui durasi film yang akan
ditayangkan, serta diskripsi film lainnya. Hal ini bertujuan agar film yang
akan ditampilkan sesuai dengan jam pelajaran.
2.
Mempersiapkan kelas, sebelum guru
menayangkan film sebaiknya audiens atau siswa diberi jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyyan yang kiranya akan muncul ketika mereka menonton film
tersebut. Untuk itu perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
a.
Menjelaskan maksud pembuatan film
b.
Menjelaskan secara ringkas isi film
c.
Menjelaskan secara ringkas isi
film, menjelaskan bagian-bagian film yang harus mendapat perhatian khusus
d.
Harus dijelaskan mengapa terdapat
ketidakcocokan pendapat dengan bagian isi film bila ditemui ketidak sesuaian
3.
Langkah penyajian, setelah guru
menyiapkan audiens, guru perlu menyiapkan peralatan yang kiranya diperlukan
selama penayangan film. Misalnya proyektor atau LCD, pencahayaan ruang dll.
4.
Aktivitas lanjutan, dalam aktivitas
ini dapat dilakukan Tanya jawab, untuk mengetahui sejauh mana pemahaman audiens
terhadap materi yang disampaikan.
Dalam menilai baik tidaknya sebuah
film Oemar Hamalik mengemukakan
bahwa film yang baik memiliki beberapa ciri sebagai berikut:[10]
1.
Dapat menarik minat anak
2.
Benar dan autentik
3.
Up to date dalam seting , pakaian
dan lingkungan
4.
Sesuai dengan tingkat kematangan
audien
5.
Perbendaharaan bahasa yang
digunakan benar
6.
Teknis yang dipergunakan cukup
memenuhi persyaratan dan cukup memuaskan.
E.
Kelebihan dan Kekurangan
Berikut ini adalah Kelebihan media video dan
film ( Sukiman, 2012: 188):
1.
Video dan film
dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari peserta didik ketika mereka
membaca, berdiskusi, berpraktik dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam
sekitar bahkan hal yang tidak dapat kita lihat misalnya kerja jantung ketika
berdenyut.
2.
Film dan video
dapat di putar berulang-ulang bila diperlukan. Misalnya langkah-langkah praktik
wudhu, sholat dll.
3.
Video dan film
dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan menanamkan nilai-nilai afektif
lain. Misalnya film-film religi.
4.
Film dan video
dapat mengandung nilai-nilai positif yang mengundang pemikiran dan pembahasan
dalam kelompok peserta didik. Bahkan video dan film seperti slogan yang sering
didengar dapat membawa dunia ke dalam kelas.
5.
Film dan video
dapat menyajikan kejadian-kejadian yang berbahaya seperti lahar gunung berapi
atau perilaku binatang buas.
6.
Film dan video
dapat di tunjukkan pada berbagai macam kelompok, baik kelompok besar maupun
kecil, baik heterogen maupun homogeny.
7.
Dengan kemampuan
dan teknik pengambilan gambar frame demi frame, yang jika dalam keadaan normal
akan memakan waktu yang cukup lama dapat disingkat menjadi hanya beberapa
menit. Misalnya kejadian metamorphosis ulat menjadi kupu-kupu.
Adapun kekurangannya adalah:
1.
Pembuatan video dan film yang berkualitas , memerlukan
peralatan yang relative mahal.
2.
Pembuatan film dan video membutuhkan waktu yang tidak
sedikit.
3.
Siswa harus memperhatikan dengan serius dan jangan
sampai ketinggalan, jika ketinggalan maka informasi yang di dapat akan kurang
jelas
4. Film dan video
yang tersedia tidak selalu sesuai dengan kebutuhan dan tujuan belajar yang
diinginkan kecuali film dan video itu dirancang dan diproduksi khusus untuk
kebutuhan sendiri ( Sukiman, 2012: 190)
5. Keterangan hanya
dapat disampaikan setelah pemutaran selesai, karena Film bersuara tidak dapat
diselingi keterangan-keterangan yang diucapkan sewaktu film diputar. Penghentian
akan menganggu konsentrasi audien
F.
Contoh Penggunaan Video dan
Film dalam Pembelajaran PAI
Pelajaran Agama
terbagi menjadi beberapa mata pelajaran terutama di Madrasah Tsanawiyah atau
Madrasah Aliah yaitu Fiqih, Akidah Akhlak, Quran Hadis, Sejarah Kebudayaan
Islam. Dalam pelajaran fiqih misalnya dalam BAB haji dapat ditayangkan film
atau video mengenai tawaf, sai, lempar jumroh dll. Dalam pelajaran Akidah
Akhlak dapat ditampilkan video mengenai contoh akhlak-akhlak tercela seperti video
tentang perjudian, mencuri. Contoh penerapan video dan film dalam quran hadis
bisa berupa pembacaan ayat-ayat suci versi qori terkenal. Sedangkan dalam SKI
dapat ditampilkan video tentang kronologi tentang perang-perang dll.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
film kini
diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang menggunakan audio. (suara) dan
visual (gambar) sebagai medianya. Video adalah seperangkat komponen atau media
yang mampu menampilkan gambar sekaligus suara dalam waktu bersamaan. Kedua media
tersebut adalah media berbasis audio visual, yaitu media yang tidak hanya bisa
dilihat atau didengar melainkan media yang dapat dilihat sekaligus didengar.
Media ini dianggap lebih efektif karena dapat melibatkan indra ytang lebih
banyak dari pada media-media yang hanya menggunakan satu indra saja. Seperti
media-media yang lain, media ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan seperti
yang telah dipaparkan sebelumnya.
B.
DAFTAR PUSTAKA
Sukiman. Pengembangan Media Pembelajaran.
. 2012. Yogyakarta: Pedagogia
Ismaniati, Christiani. Pengembangan dan Pemanfaatan Media Video Intruksional untuk
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dalam Majalah Ilmiah Pembelajaran Edisi
Khusus 2012.
Usman, Basyiruddin. Media Pembelajaran. 2002.Jakarta: ciputat pres.
Kustandi, Cecep. Sutjipto, Bambang. Media Pembelajaran: Manual dan Digital.
2013. Bogor: Ghalia Indonesia.
Setijadi. Pemilihan dan Pengembangan Media untuk Pembelajaran. 1994. Jakarta:
Raja Grafindo Persada.
[4]
Cecep Kustandi, Bambang
Sutjipto, Media Pembelajaran: Manual dan Digital, 2013 (Bogor: Ghalia Indonesia).
Hal 64
[6]Christiani
Ismaniati, pengembangan dan pemanfaatan media video intruksional untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran dalam Majalah Ilmiah Pembelajaran Edisi
Khusus 2012, hal. 119
[7]Ibid
hal. 122
[8]
Sukiman, 2012, Pengembangan Media pembelajaran, (Yogyakarta: pedagogia), hal
190.
[9]
Basyiruddin Usman, 2002, Media Pembelajaran, (Jakarta: ciputat pres) hal. 96
Harrah's Atlantic City - MapyRO
BalasHapusFind 전라남도 출장마사지 out more about Harrah's Atlantic City 문경 출장마사지 in Atlantic City, NJ from MapyRO customers. Use your filters 과천 출장샵 to 제주도 출장마사지 see which casinos are 군산 출장샵